Seorang gadis berjalan dengan perlahan di pinggir trotoar. Rambutnya hitam kemilau, kulitnya putih, matanya hitam, perawakan tinggi, langsing, tapi ada yang tidak pernah berubaah darinya, sorot matanya. Ya, setiap hari dia selalu terlihat murung. Tidak ada kebahagiaan di wajahnya. Yang terpancar di wajahnya hanyalah kesedihan.
“Hai, cewek....!” seseorang yang tidak dikenal menyapanya dan menghadang langkahnya. Namun tanpa disengaja, sebuah mobil sedan yang melaju dengan cepat membuat baju cowok tersebut basah. Mobil tersebut rupanya menginjak genangan air di sekitar tempat cowok tersebut berdiri. Kontan teman-teman cowok tersebut tertawa sambil berkata, “tuh, kan...”, membuat cowok tersebut dengan terpaksa cepat-cepat menyingkir dari hadapan gadis itu.
Namanya Marsya Neylina. Sekarang dia duduk di kelas 2 SMA Negeri 10. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Dulu, saat ayah dan ibunya ada, mereka pergi bertamasya ke puncak. Namun nasib sial menimpa ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil. Sedangkan Marsya selamat dari kecelakaan maut tersebut, bahkan luka gores pun tidak terlihat di tubuh marsya.
Orang-orang disekitarnya menyebut Marsya ‘anak pembawa sial’. Pasalnya, usaha pamannya yang berhasil tiba-tiba mengalami kebangkrutan tepat saat Marsya hadir di rumah tersebut. Bukan hanya itu, teman-temannya juga menjauh darinya karena nasib sial selalu menimpa mereka saat bersama dengan Marsya.
“Si pembawa sial datang, tuh..!” kata salah seorang temannya.
Marsya sudah tidak peduli lagi dengan omongan yang sering didengarnya itu. Dia dengan tegar tetap melanjutkan tujuannya ke bangku kosong di sudut belakang kelas tersebut. Marsya duduk sendiri karena tidak ada yang ingin duduk berdampingan dengannya.
“Anak-anak!! Mohon Perhatiannya!” kata Ibu Wid, wali kelas mereka yang tiba-tiba masuk kelas. “Hari ini teman kalian bertambah satu...” lanjutnya sambil menoleh ke luar pintu kelas, “Leon, ayo masuk! Perkenalkan dirimu.”
“Teman-teman, perkenalkan... nama saya Leon Aditya. Saya berasal dari SMA N 21. Panggil saja saya Leon.” kelas tambah riuh mendengar perkenalan dari Leon. Belum lagi di luar pintu dan jendela ada anak-anak kelas lain yang mengintip untuk menyaksikan perkenalan Leon. Hampir semua perempuan di kelas merapikan dandanan, rambut, dan seragam mereka, tapi hanya satu orang yang cuek dengan tetap membaca buku. Yah... siapa lagi kalau bukan Marsya. Dia merasa bahwa dengan menambah anggota di kelas ini adalah suatu beban baginya. Pasalnya, kursi yang satu-satunya kosong hanyalah di sebelah tempat duduknya.
“Leon.... ayo duduk di bangku yang kosong.” kata Ibu Wid sambil menunjuk bangku di samping Marsya. Tiba-tiba kelas menjadi tambah riuh, ditambah keributan di luar kelas. “Sudah, sudah, nggak usah ribut.. yang diluar silahkan ke kelas masing-masing!! Pelajaran akan segera dimulai!” lanjut Ibu Wid disambut teriakan ‘Huu..’ dari murid-murid luar yang sambil berlalu meninggalkan kelas.
“Kasihan Leon..” ucap Cindy melihat Leon yang segera bergegas menuju bangku tempat duduknya.
Marsya tersadar ketika Leon ada di sampingnya. Dia menoleh pada Leon, kemudian melanjutkan bacaannya. Leon terheran dengan sikap Marsya.
“Hai, salam kenal.” Leon memberi tangan kanannya pada Marsya, namun Marsya hanya menatap sebentar pada Leon lalu mengacuhkannya.
“Sudahlah, Leon.. lebih baik kamu jangan dekat-dekat dengannya.. Bahaya!!” ucap Joe yang duduk di depan Marsya. Dia merasa kesal karena menurutnya Marsya benar-benar si pembawa sial, masalahnya dia sering ketahuan guru menyontek, padahal dulunya dia mahir dalam hal seperti itu. Dia meyakini bahwa ini benar-benar karena dia duduk hampir berdekatan dengan Marsya.
Marsya menghentikan bacaannya, membuka kacamatanya dan menatap Joe dengan dingin. Joe yang merasa nyawanya terancam langsung menghindari tatapannya dari Marsya dan kembali ke posisi semula. “Permisi, aku mau lewat.” kata Marsya pada Leon.
“Lho, kenapa?” tanya Leon pada Joe ketika Marsya sudah berada di luar kelas, dan Joe pun menceritakan ‘Kisah Marsya Si Pembawa Sial’ kepada Leon.
Sementara Joe sibuk menceritakan kisah pada Leon, Marsya yang sekarang berada di toilet menitikkan air mata.
********
Bel istirahat membuat seluruh sekolah menjadi riuh karena teriakan-teriakan dari siswa-siswa di SMA N 10. Seperti biasa, Marsya tidak ke kantin. Ia sudah menyiapkan bekalnya dari rumah. Pergi ke kantin hanya akan membuat kantin menjadi sepi, karena jika ia ke kantin, tidak ada seorang pun yang berani membeli di kantin tersebut.
“Hai...! Namamu Marsya, kan? Kok nggak ke kantin?” tanya Leon sok akrab.
“Bukan urusanmu.” jawab Marsya jutek.
Leon menatap teman-teman yang riuh karena Leon berani berbicara pada Marsya. “Eh, aku mau jadi temanmu.” Leon kembali mengulurkan tangannya pada Marsya, mengajak berjabat.
“Kamu pasti sudah dengar gosipnya, kan? Kalau belum nanti juga kamu dengar.” Marsya menatap tangan Leon sebentar, “kalau sayang nyawa, lebih baik kamu gak usah kenal aku.” lanjutnya sambil melajutkan makannya.
Leon mengambil bekal Marsya dan memakan udang goreng dari bekal Marsya, “makasih, ya... ENAK..” komentarnya sambil tersenyum.
“Kamu nggak takut sama aku?” Marsya kembali mengambil bekalnya.
“Begini saja. Aku punya penawaran bagus..”
“Maksudmu?”
“Aku ingin kamu menjadi temanku. Jika memang benar aku selalu sial dekat denganmu, aku akan menyingkir.. Gimana?” Leon kembali mengambil udang goreng terakhir milik Marsya.
“Terserah kamu saja.” kata Marsya cuek, namun dalam hatinya dia benar-benar menaruh harapan pada Leon.
“Ugh.... uhuk, uhuk... ugh...” Leon memegangi lehernya. Seperti ada kulit udang goreng nyangkut di tenggorokan Leon. Hal itu mengundang simpati seluruh siswa di kelas.
“Leon!” Marsya shock dan tambah yakin bahwa itu adalah kesalahannya.
“Hehehehe... bercanda, kok! Aku nggak percaya sial itu ada..” Leon tersenyum, membuat Marsya lega dengan menitikkan setetes air mata yang jatuh di lengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar